Fan Fiction.. Complicated.. Part 6
Jaejoong menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan jepang, kebetulan YounSu juga berada disana. YunJaeKa dan 2Wonpun masuk ke dalam rumah makan beriringan. Junsu yang melihat mereka langsung memanggil.
"Hyung.", panggil Junsu. Jaejoong yang sudah mengenali suara dolphin adiknya langsung menghampiri YounSu diikuti yang lain.
"Aish dongsaeng-dongsaengku ada disini.", gurau Jaejoong.
"Hahahaha.", Junsu dan Younhee hanya tertawa. Ahnka berlari ke arah Younhee dan memeluknya.
"Onnie, mian waktu itu tidak bisa datang.", sesal Ahnka. Younhee tersenyum.
"Gwaenchana, ayo duduk. Kita gabung saja.", ajak Younhee. Semuapun duduk, seperti khasnya rumah makan jepang mereka duduk di tikar rotan beralaskan bantal duduk. "Yaa kenapa ada oppa?", gurau Younhee pada Yunho.
"Kenapa? Tidak suka ada aku. Hehe. Tadi aku ikut mobil Jaejoong dari kantor.", jelas Yunho.
"Aish oppa memalukan. Kenapa tidak bawa mobil saja.", ledek Younhee. Yunho memukul kepala Younhee pelan.
"Aku belum punya SIM Korea. Mau oppamu ini masuk penjara?", kesal Yunho hanya bercanda.
"Hehe. Iya, iya. Begitu saja marah.", sindir Younhee. Semua jadi tertawa, kecuali Jaejoong dan Ahnka yang sibuk memilih makanan.*laper*
"Jagiya, bukannya itu.", Hyun In menunjuk ke arah Jaejoong dan yang lainnya.
"Ah kita kesana jagiya. Berkumpul menyenangkan.", Key menarik tangan Hyun In. Dan dengan santai bergabung dengan semua.
"Annyeong.", sapa Key dan Hyun In bersamaan.
"Wah kebetulan sekali kita semua berkumpul disini.", senang Siwon sekarang yang bersuara.
"Hyung sudah lama tidak bertemu.", sapa Key pada Siwon. "Oh aku tau, sibuk dengan gadis yang di sampingmu itu kan.", sindir Key melirik pada Hyoo Won.
"Iya betul Key.", sambar Ahnka. "Oppa kau belum kenalkan kami pada gadis yang ada di sampingmu.", timpal Ahnka menggoda. Wajah Hyoo Won jadi merah padam.
"Onnie jangan menggodaku.", kesal Hyoo Won pada Ahnka. Tapi Ahnka hanya tertawa keras. Dengan malu-malu, Hyoo Won memperkenalkan dirinya.
"Hyoo Won imnida. Aku temannya Ahnka onnie.", kata Hyoo Won ramah.
"Temanku?", goda Ahnka lagi. Jaejoong membungkam mulut Ahnka.
"Sudah jangan menggoda dia terus kau ini.", omel Jaejoong. "Dia Hyoo Won calon kakak iparku, tapi sayangnya kakak iparku yang satu ini belum berani meresmikannya. Hahaha.", timpal Jaejoong kini yang menggoda. Tak ayal lagi sebuah pukulan bersarang di kepala Jaejoong.
"Hyung berisik, kalian sama saja.", kesal Siwon. Ahnka dan Jaejoong hanya tertawa geli.
"Aku terjebak diantara pasangan-pasangan gila.", gurau Yunho angkat bicara.
"Bukan salahku. Oppa sendiri yang tidak punya pacar. Week.", ledek Younhee. Yunho melirik pada Jaejoong.
"Pacarku nanti akan lebih cantik dibandingkan siapapun.", ujar Yunho penuh keyakinan.
"Makanan datang.", kata Hyun In penuh semangat. Memang perutnya sudah lapar sekali.
"Semangat sekali nonna.", sindir Junsu. Hyun In tersenyum lebar.
"Maklum, baru pulang kerja.", saut Hyun In. Semuapun akhirnya menyantap makanan yang ada. Namun, acara makan Yunho tidak tenang karena terus melihat Jaejoong yang berlaku manja pada Ahnka.
.....
Acara makan malam bersamapun berakhir, karena Junsu akan mengantar Younhee pulang otomatis Yunho memilih pulang dengan Junsu dan membiarkan Jaejoong pulang berdua dengan Ahnka.
"Bubu bisakah kau yang menyetir. Aku ingin tidur sebentar.", pinta Jaejoong. Kini Ahnka yang mengemudikan mobil. Sedangkan Jaejoong tidur bersandar di pundak Ahnka.
"Lelah ya be?", tanya Ahnka. Jaejoong merengut.
"Iya karenamu, aku kurang tidur.", gurau Jaejoong.
"Yasudah lain kali aku tidak akan meneleponmu malam-malam lagi. Kasian.", sesal Ahnka. Jaejoong langsung bangkit.
"Andweee. Harus meneleponku. Tidak ditelepon sama saja aku merindukanmu. Kalau merindukanmu, aku juga tidak bisa tidur.", kata Jaejoong panjang lebar lalu tidur lagi di pundak Ahnka.
"Berarti itu salahmu sendiri bebeku.", sindir Ahnka. Jaejoong hanya mengangguk-angguk dan tidur.
.....
Sesampai di apartement. Hyun In sedang tertidur pulas di dalam mobil, Key sama sekali tidak tega membangunkannya. Jadi iapun menggendong Hyun In dipunggungnya masuk ke dalam apartement.*so sweet* Tapi tak lama malah membangunkan Hyun In.
"Jagi, kenapa tidak membangunkanku saja.", kata Hyun In yang melingkarkan tangannya di leher Key.
"Sudah, kau tidur saja jagi. Aku akan menemanimu.", suruh Key. Hyun In mengecup leher Key.
"Memang jagiyaku.", racau Hyun In.
Keypun merebahkan Hyun In di tempat tidurnya. Iapun tidur disamping Hyun In, membelai rambut Hyun In. Hyun In membalikan badannya memeluk Key. Membuat Key dengan mudah mencium bibir Hyun In. Lalu turun mengecupi leher Hyun In.
"Ciuman sebelum tidur.", celetuk Key. Hyun In tersenyum dan membiarkan Key melakukan yang ia mau.
.....
Siwon mengantar Hyoo Won sampai pintu rumahnya.
"Gomawo oppa telah mengantarku.", ucap Hyoo Won. Siwon mengacak-acak rambut Hyoo Won.
"Tidur nyenyak ya. Aku pulang dulu.", kata Siwon. Ia mengecup kening Hyoo Won sebelum berlalu.
"Hati-hati oppa.", teriak Hyoo Won. Siwon tersenyum dan melambaikan tangannya dari dalam mobil. Iapun melajukan mobilnya.
.....
"Gomawo Jun aku masuk duluan ya. Tidak ingin mengganggu.", goda Yunho ia segera turun dari mobil.
"Oppa mau turun dulu apa langsung pulang?", tanya Younhee. Junsu menggeleng.
"Aku langsung pulang saja ya.", saut Junsu. Younhee tersenyum.
"Yasudah hati-hati ya oppa. Selamat malam oppaku.", Younhee mengecup pipi Junsu dan keluar dari mobil.
"Aku pulang ya. Dah jagi.", pamit Junsu yang segera mengemudikan mobilnya.
Fan Fiction.. Complicated.. Part 7
Karena alasan satu kantor. Yunho dan Jaejoong jadi sering bertemu. Dan semakin hari merekapun semakin dekat. Yunho semakin menunjukan perhatiannya pada Jaejoong. Entah mengapa Jaejoong merasa begitu senang. Mungkin perhatian yang jarang sekali ia dapatkan dari Ahnka. Ahnka sesuai umurnya yang baru akan beranjak sembilan belas tahun, ia masih bersifat kurang peduli dengan sekitarnya. Sifat kekanak-kanakannya masih terlalu kental.
"Mian Joonggie ada kotoran di rambutmu.", Yunho mengambil kotoran tepat di rambut Jaejoong.
"Gomawo.", saut Jaejoong tersenyum manis.
"Joonggie aku kira kepindahanku kembali ke Korea memang takdir yang membahagiakan.", celetuk Yunho. Jaejoong mengerenyitkan keningnya.
"Waeyo? Bukannya dulu kau ingin di Indonesia saja.", heran Jaejoong.
"Tadinya. Tapi saat bertemu denganmu. Aku kira sangat menyenangkan sekali.", senang Yunho. Jaejoong merespon baik, tidak berpikir kata-kata itu berarti lain.
"Aku juga senang bertemu denganmu. Kau begitu baik. Seperti seorang hyung untukku. Padahal aku lebih tua darimu.", timpal Jaejoong. Yunho tersenyum.
"Mungkin bisa lebih dari seorang hyung.", gumam Yunho namun terdengar Jaejoong.
"Maksudmu?", tanya Jaejoong. Yunho jadi salah tingkah.
"Aniya. Aku senang kau anggap seperti hyung.", ralat Yunho secepatnya.
"Hahahaha. Tapi kan makanmu tidak perlu sampai berantakan seperti ini.", Jaejoong menghapus saus kacang yang ada di pipi Yunho dengan tissue. Yunho benar-benar terhenyak. Tatapannya tidak lepas dari pria cantik yang ada di hadapannya. Benar-benar membuat hatinya bahagia tak terkira. Jaejoong bisa merasakan nafas Yunho menerpa wajahnya. Larut dalam nafas hangat itu untuk beberapa saat. Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong. Tapi Jaejoong lebih dulu menarik wajahnya menjauh, bukan karena salah tingkah. Tapi karena memang wajah Yunho sudah bersih. Sebenarnya ia tak sadar kalau Yunho hendak menciumnya.
"Sudah bersih. Kalau begini kau seperti Ahnka. Dia kalau makan, apalagi makan ice cream pasti berantakan.", ledek Jaejoong. Yunho menghela nafasnya. Lagi-lagi nama Ahnka keluar dari mulut Jaejoong. Yunho tersenyum masam dan kembali melanjutkan makannya.
Tak lama telepon Jaejoong berdering. Terlihat jelas nama 'BUBU' memanggil.
"BEBEEEKU.", teriak Ahnka. Jaejoong menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Bubu, kebiasaan berteriak.", kesal Jaejoong. Ahnka hanya cengengesan.
"Kau sedang apa?", tanya Ahnka santai.
"Sedang makan siang bersama Yunho. Waeyo?", jawab Jaejoong disertai pertanyaan.
"Aniya. Tadinya aku mau ajak kau makan siang. Tapi kau sudah makan. Yasudah. Makan yang banyak ya. Kau ini sudah mulai kurus. Bogoshipoyo. Dah.", Ahnka mematikan teleponnya begitu saja tanpa membiarkan Jaejoong berbicara. Jaejoong berdecak kesal.
"Kebiasaan suka mematikan telepon seenaknya.", kesal Jaejoong. Ia kembali menelepon Ahnka. Ahnka dengan cepat mengangkatnya.
"Kau ini kebiasaan sekali.", omel Jaejoong. Ahnka tertawa.
"Biarin. Karena aku tau kebiasaanmu, yang akan meneleponku lagi.", ngeyel Ahnka.
"Ah bubu, kalau kau ada di hadapanku sudah aku makan hidup-hidup.", gurau Jaejoong tetap dengan nada kesalnya.
"Hahaha. Di makan olehmu. Tidak mau. Jangan marah-marah saja bebeku sayang. Nanti wajahmu keriput lho.", ledek Ahnka menakut-nakuti. Jaejoong menggembungkan pipinya.
"Kalau aku keriput dan jelek. Kau harus bertanggung jawab. Harus mau aku nikahi.", ancam Jaejoong.
"Tidak mau. Hehehe. Bohong. Iya walau kau jelek, aku akan mau kau nikahi. Jeongmal saranghaeyo bebe.", kata Ahnka. Jaejoong tampak senang. Yunho sedaritadi hanya mendengarkan pembicaraan secara sepihak itu.
"Saranghaeyo yeongwonhi. Kau belum makan siang kan? Sekarang harus makan. Biar tambah gendut.", ledek Jaejoong gantian.
"Iya, iya. Aku sudah memesan makananku.", beritahu Ahnka.
"Yasudah. Bogoshipoyo. Dah bubu.", Jaejoong memutus teleponnya. Ia tampak senang habis berbicara dengan Ahnka.
.....
Key memandang tajam pada Jonghyun.
"Key, kau ini seperti supirnya saja. Setiap hari harus menjemputnya. Memang seperti itu sih biasanya kalau berpacaran dengan yang jauh lebih tua.", sindir Jonghyun menepuk pundak Key. Key menepisnya.
"Aku tidak keberatan.", kesal Key geram.
"Tapi aku lucu saja jika melihatmu bersama nonnamu itu. Seperti adik kecil yang sedang diasuh nonnanya.", gurau Jonghyun. Key masih menahan emosinya.
"Hyung memangnya enak ya pacaran dengan yang lebih tua? Dia kan umurnya jauh diatasmu.", penasaran Taemin yang tiba-tiba menyambar omongan. Taemin bukan ingin meledek ia hanya penasaran saja. Tapi itu makin membuat panas suasana hati Key.
"Tidak ada bedanya pacaran dengan yang lebih muda atau tua. Yang penting aku mencintainya dan dia mencintaiku.", jawab Key menggebu-gebu.
"Oh sepertinya menyenangkan punya pacar seorang nonna. Sepertinya aku akan dimanjakan.", celetuk Taemin polos.
"Kau ini, yang ada kau dimanfaatkan. Lagipula orang-orang akan aneh memandangmu bermesraan dengan wanita yang mereka anggap noonamu sendiri.", kata Jonghyun. Key semakin menggeram. Ia mengepal tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Ia menarik kerah kemeja Jonghyun.
"Hentikan ocehanmu. Bicara memuakan. Itu urusanku dengan kekaksihku. Kau ini ikut campur sekali. Seperti tidak ada kerjaan, mulut besar.", maki Key yang sudah gerah dengan ocehan Jonghyun.
Onew menarik Key menjauh dari Jonghyun, sebelum kemarahan Key lebih meledak.
"Sudah Key. Jonghyun hanya bergurau.", bijak Onew. Key mendengus.
"Ini karena aku menghormatimu hyung.", Key memutuskan meredakan emosinya dan pergi.
Fan Fiction.. Complicated.. Part 8
Siwon dan Hyoo Won diam-diam pergi berdua tanpa sepengetahuan Ahnka. Siwon sudah tahu gelagat Ahnka, jika tidak bersama Jaejoong. Ia pasti minta diajak. Dan ujung-ujungnya, Ahnka akan mengganggu kencan terselubung Siwon dan Hyoo Won. Siwon mengendap-endap saat melewati kamar Ahnka. Lalu langsung lari agar tidak ketahuan.
"Aman.", lega Siwon yang langsung meluncurkan mobilnya ke rumah Hyoo Won untuk menjemputnya.
Sesampainya di rumah Hyoo Won. Ia mengirim pesan singkat pada Hyoo Won, bahwa ia menunggunya di luar. Tak lama Hyoo Won keluar, ia terlihat sangat manis dengan pakaian yang ia padu padankan dengan apik.
"Apa aku terlalu lama?", tanya Hyoo Won merasa tidak enak.
"Aniya. Masuklah.", suruh Siwon. Hyoo Wonpun masuk dan menempati jok di samping Siwon.
"Malam ini kau sangat manis.", puji Siwon membuat senyum malu terkembang di bibir Hyoo Won.
"Ayo pergi oppa.", suruh Hyoo Won untuk menyembunyikan kesalah tingkahannya sekarang ini.
Karena keinginan Hyoo Won, Siwon melajukan mobilnya menuju sungai Han, sungai yang begitu terkenal di negaranya. Sungai yang mempersembahkan kilauan lampu-lampu dan indahnya air mancur pada malam hari sebagai salah satu daya tarik sungai ini.
"Kau suka sekali tempat ini?", tanya Siwon pada Hyoo Won sesaat mereka sampai di tepian sungai Han. Mata Hyoo Won mantap menerawang semua pandangan tepat lurus ke depan.
"Sunyi dan tenang. Tapi begitu mengagumkan, seperti appaku.", kata Hyoo Won. Siwon menoleh pada Hyoo Won. Hyoo Won sadar akan itu, ia menghadap ke arah Siwon dan tersenyum manis.
"Waeyo wajah oppa seperti itu?", heran Hyoo Won. Siwon menggeleng cepat.
"Apa pertanyaanku mengingatkanmu pada appamu? Mianhae.", sesal Siwon. Ya, Hyoo Won hanya hidup bersama berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu.
"Hahaha. Oppa kau ini, tanpa pertanyaanmu itu. Aku memang selalu mengingat appaku. Oppa ini.", saut Hyoo Won dengan tawa geli yang keras.
"Kau ini.", Siwon mengacak-acak rambut Hyoo Won. Tiba-tiba suasana menjadi hening, begitu hening. Hanya suara semilir angin dan riak kecil air sungai sayup-sayup terdengar begitu selaras.
Apa yang dipandang Hyoo Won dalam keheningan ini? Bibir indah milik Siwon yang selalu bertutur manis padanya. Seperti mengerti keinginan Hyoo Won, lebih tepatnya keinginannya. Siwon mencium telak di bibir Hyoo Won. Hanya menempel seperti biasanya. Keduanya larut. Keduanya memejamkan mata untuk menemukan kehangatannya. Hyoo Won mulai membutuhkan asupan oksigen. Jalan satu-satunya dengan membuka sedikit mulutnya. Membuat Siwon berpikir bahwa Hyoo Won menggodanya. Tangan yang sedaritadi hanya menjulur ke bawah. Kini merengkuh tengkuk Hyoo Won. Dan ciuman mereka kini berubah menjadi ciuman ala Perancis. Mungkin ini bukanlah ciuman pertama mereka. Mereka sudah sering melakukan ini jika suasana menjadi hening seketika, tapi untuk ciuman seintim ini. Ini pertama kalinya mereka lakukan. Sebuah kemajuan besar untuk hubungan mereka yang tanpa status.
.....
Junsu tampak berpikir keras di dalam kamarnya.
"Gaun pengantin, cincin, undangan sudah. Apa lagi ya?", pikir Junsu bergumam sendiri. Ia memijat keningnya, mencari jawaban.
"Iya foto prewedding terus gedung. Ah kenapa aku bisa lupa akan hal itu. Babo.", semangat Junsu menepuk keningnya. Ini yang sudah satu bulan terakhir jadi pikiran Junsu. Ia ingin semuanya tampak istemewa. Pernikahan yang tidak akan pernah terlupakan. Sejarah kehidupannya dan Younhee yang akan digoreskan dalam hati keduanya masing-masing.
"Aku harus menelepon Min Jun.", Junsu segera mendial nomor ponsel Min Jun, sahabat Junsu sejak SMA yang merupakan fotografer handal. Dia memang bukanlah fotografer penerima jasa prewedding. Tapi apa salahnya merajuk.
"Yeobohaseyo.", sapa Min Jun dari seberang sana.
"Huah, Min Jun.", teriak Junsu dengan suara khas dolphinnya.
"Ya Junsu. Suaramu memekak telingaku.", gurau Min Jun lalu tertawa kecil. "Ada apa meneleponku?", tanya Min Jun.
"Aish. Min Jun, kau kan fotografer. Bisakah kau mengambil foto untuk foto preweddingku dengan Younhee.", pinta Junsu. Min Jun berpikir.
"Tapi aku tidak pernah.", tolak Min Jun.
"Demi sahabatmu. Jadikan aku yang pertama. Oke.", rajuk Junsu dengan nada yang melas.
"Apa katamu saja. Oke. Maunya kapan?", tanya Min Jun dengan nada seakan terpaksa.
"Minggu besok saja.", saut Junsu. Min Jun menyipitkan mata.
"Babo. Minggu tiga hari lagi. Kau kira, kau ini. Aku harus cari sponsor untuk pakaian kalian dulu. Belum cari konsep. Kau ini mendadak sekali.", omel Min Jun. Junsu terkekek-kekek.
"Hahaha. Mian, mian. Kau ini galak sekali. Terserahmu saja, tapi secepatnya ya.", kata Junsu santai.
"Iya cerewet. Kau mau fotomu konsep apa?", tanya Min Jun lagi.
"Terserahmu. Tapi aku ingin Younhee terlihat seksi. Kalau bisa dia pakai bikini dan kami berfoto di kolam renang atau laut mungkin. Hehehe.", otak mesum Junsu mulai bekerja.
"Kau ìni. Aku sudah ada ide. Mungkin tidak dengan bikini. Tapi kemeja putih saja, itu akan lebih seksi saat basah. Kau mengerti kan maksudku otak mesum. Setuju?", gurau Min Jun. Junsu kini membayangkan Younhee yang seperti di gambaran Min Jun.
"AH SEKSI SEKALI.", teriak Junsu. Sampai Jaejoong mendatangi kamar adiknya itu.
"Jangan teriak malam-malam Dolphin.", tegur Jaejoong. Junsu tersenyum innocent.
"Min Jun nanti kita bicarakan lagi tentang ini. Tuan Cerewet sudah marah-marah. Dah.", Junsu mengakhiri teleponnya. Sementara Jaejoong mencibir dan memicingkan matanya karena adiknya meledeknya. Lalu pergi dari kamar Junsu.
Fan Fiction.. Complicated.. Part 9
Ahnka terus saja mengembangkan senyumnya hanya karena melihat foto berukuran 60x40cm yang menempel lekat di dinding kamarnya. Foto dirinya dengan Jaejoong dalam bingkai kayu berwarna ungu. Dimana Ahnka tertawa lepas saat Jaejoong memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Bukankah itu berlebihan? Tidak. Untuk seseorang yang jatuh cinta, ini terlalu wajar.
"Aku mencintaimu sangat.", gumam Ahnka pelan. Siwon yang kebetulan lewat kamar Ahnka dan melihat si pemilik kamar seperti orang gila. Langsung menghampiri dan tidur di tempat tidur adiknya yang empuk dan besar itu.
"Sangat mencintainyakah?", tanya Siwon. Ahnka mengangguk mantap tanpa keraguan. Siwon tersenyum.
"Dongsaengku terkena pesona Jae hyung sampai seperti ini.", Siwon mengacak-acak rambut Ahnka. Ahnka memajukan bibirnya.
"Iya dong oppa. Sirik saja.", kesal Ahnka walau hanya bergurau. "Oppa aku bisa mati jika tanpanya.", celetuk Ahnka dengan senyum riangnya.
"Aku tahu itu, tidak usah kau katakan padaku. Aku tahu.", saut Siwon memeluk adiknya. Mereka memang sering bertengkar tapi mereka begitu saling menyayangi. Ahnka tersenyum dalam pelukan kakaknya.
Di tempat lain, apa balasan cinta Ahnka? Sebuah pengkhianatan menyakitkan untuk dikatakan. Jaejoong dan Yunho sedang bercumbu mesra di atas tempat tidur sebuah hotel.
Yunho dan Jaejoong adalah sepasang insan yang saling mencintai. Mereka tau itu semua. Mereka sudah saling mengetahui. Yang mengejutkan, Jaejoonglah yang mengungkapkan terlebih dahulu.
-Flashback-
Yunho sudah tidak tahan akan semua ini. Ia ingin mengungkapkan seluruh perasaannya. Ia menghentikan laju mobilnya mendadak. Jaejoong yang sedaritadi hanya bersenandung kecil mengikuti lagu yang bersumber dari tape mobil Yunho, jadi terkejut saat Yunho menekan pedal rem terlalu dalam.
"Yaa Yunhooo....", kesal Jaejoong terpotong karena Yunho meraih tengkuknya dan mencium paksa bibir Jaejoong begitu lama tanpa perlawanan.
"Aku mencintaimu Yun.", ucap Jaejoong tepat saat Yunho melepas ciumannya. Yunho terbelalak. Bukankah kata-kata itu yang juga ingin ia utarakan. Yunho jadi diam. "Aku sudah tau perasaanmu dari bagaimana kau menciumku barusan. Kau juga mencintaiku bukan?", tebak Jaejoong. Yunho mengangguk.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu.", balas Yunho senang. Jaejoong tersenyum tanpa bertanya bahkan bertanya apakah ini wajar.
"Jalankan mobilnya.", suruh Jaejoong cepat. Yunhopun segera melajukan mobilnya kembali.
-End of Flashback-
Jaejoong begitu menikmati perlakuan Yunho padanya malam ini. Tak lama ponsel Jaejoong berdering.
"Yun aku angkat telepon dulu.", kata Jaejoong. Ia menggerakan sedikit tubuhnya untuk menggapai ponselnya di meja kecil. Yunho turun dari atas tubuh Jaejoong dan memeluk tubuh Jaejoong yang memunggunginya, namun tetap mengecupi punggung polos Jaejoong dan mendengar seksama obrolan Jaejoong pada si penelepon.
"BEBEEEEE.", teriak riang Ahnka seperti biasanya.
"Bubu, kau ini kebiasaan.", omel Jaejoong bergurau.
"Aku merindukanmu. Kau sedang apa?", tanya Ahnka dalam nada yang begitu manja.
"Masih di kantor, mengerjakan pekerjaan kantorku.", jelas Jaejoong santai seakan itu adalah kenyataannya.
"Mwo? Ini sudah jam delapan malam. Kau sendirian berkerja. Kasihan sekali.", cemas Ahnka. Akhir-akhir ini yang ia ketahui Jaejoong sibuk berkerja.
"Ani, ada Yunho membantuku.", beritahu Jaejoong.
"Oh Yunho oppa.", lemas Ahnka. Lagi-lagi Yunho. Setiap Ahnka menelepon Jaejoong selalu sedang bersama Yunho. Tapi Ahnka tidak pernah berpikir macam-macam. Hanya saja ia begitu iri.
"Kau sedang apa bu?", tanya Jaejoong balik.
"Melihat fotomu. Aku merindukanmu. Sudah dua minggu kita tidak bertemu.", jelas Ahnka. Dua minggu yang Jaejoong habiskan full bersama Yunho. Mereka hanya berkomunikasi via telepon. Itupun, harus Ahnka yang menelepon lebih dahulu. Karena Jaejoong tak kunjung menelepon Ahnka. Tapi dengan bodohnya, Ahnka tidak pernah curiga sedikitpun.
"Akupun merindukanmu.", balas Jaejoong jujur dari dalam hatinya. Tak ada yang bisa menyangkal, gadis yang sedang meneleponnya juga begitu ia cintai.
"Besok bisa bertemu? Besok hari Minggu. Apa masih harus berkerja? Tapi kalau tidak bisa tidak apa-apa.", rajuk Ahnka. Dibalik itu ia menginginkan Jaejoong menyetujuinya.
"Ne. Aku besok akan ke rumahmu. I love you.", kata Jaejoong. Ahnka tersenyum.
"Gomawo. I love you more. Yasudah, aku tidak mau mengganggumu berkerja. Selamat malam. Sampai besok. Salamkan pada Yunho oppa. Dah.", Ahnka menutup flip ponselnya. Tidak sabar menanti datangnya esok hari. Ingin memeluk kekasihnya itu untuk melepas rindunya yang membuncah dalam hati.
"Itu Ahnka, Joonggie?", tanya Yunho. Jaejoong mengangguk. Ia melepas pelukan Yunho pada pinggangnya.
"Aku pulang ya.", Jaejoong mengenakan pakaiannya yang tergeletak di lantai. Ada rasa bersalah melakukan ini terhadap Ahnka.
"Tapi kita belum seles...", kata-kata Yunho terpotong saat Jaejoong mencium bibir Yunho, melumatnya sampai ia kembali terbawa suasana. Leher Jaejoong yang sudah penuh akan kiss mark yang merah menyala kembali dijamah Yunho. Yunho menciptakan berbagai maha karya tak ternilai di leher Jaejoong untuk kesekian kalinya. Jaejoong mendorong tubuh Yunho.
"Kita selesaikan kapan-kapan saja.", Jaejoong bangkit pergi meninggalkan Yunho sendirian di dalam kamar hotel dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.
"Sial. Setiap selesai Ahnka menelepon. Pasti dia seperti ini.", kesal Yunho. Ia melempar guling yang ada di sebelahnya ke lantai.
Fan Fiction.. Complicated.. Part 10
Di apartement Hyun In, Key hanya tidur di kasur sembari menekan tombol pada remote televisi tanpa henti. Tidak ada tontonan yang menarik untuknya, tidak akan pernah, jika dalam keadaannya yang kacau sekarang ini. Hyun In mendekati Key, ia heran dengan tingkah Key. Ia memeluk hangat Key diletakan kepalanya di dada Key.
"Kau kenapa jagi?", tanya Hyun In heran. Key menggeleng sambil membelai kecil rambut Hyun In.
"Tidak apa-apa. Kau tidur saja.", suruh Key dingin. Ia menarik selimut untuk menghangatkan mereka berdua.
Key termakan kata-kata temannya. Ia mulai risih menjadi kekasih Hyun In yang lebih tua darinya. Ditambah pandangan aneh orang-orang terhadap mereka. Walau sebenarnya orang-orang memandang biasa saja, itu hanya pikiran Key. Hanya saja, seseorang akan menangkap sesuatu secara berlebihan jika terfokus pada suatu hal. Ia menatap Hyun In yang mendongakan kepala menghadapnya. Ia mengerti, Hyun In merasa heran dengan sikapnya beberapa hari terakhir ini. Tapi dia hanya diam, memang hanya itu yang ia inginkan. Hyun In melepas pelukannya, ia menjauh dan tidur membelakangi Key. Ada tetes air mata disana. Key hanya memandang langit-langit kamarnya.
"Jagiya.", panggil Key, ada sesuatu yang ingin ia katakan. Hyun In bergumam.
"Hemmm.", gumam Hyun In, tanpa merubah posisi tidurnya. Membuat Key mengurungkan niatnya untuk bicara pada Hyun In.
"Jangan membelakangiku. Peluk aku.", Key mengganti kata-katanya. Hyun In berbalik dan memeluk tubuh Key, setelah ia menghapus air matanya.
"Sudah.", kata Hyun In singkat.
"Baguslah. Selamat malam.", saut Key. Key memejamkan matanya setelah itu.
Hyun In tau apa yang ada di pikiran Key. Dia takut. Takut semua pemikirannya benar. Dia takut Key meninggalkannya. Dia takut sekali. Ia memeluk erat tubuh Key. Menghirup aroma tubuh Key dalam-dalam. Ia tidak tenang, rasa kantukpun tak kunjung datang. Sampai matahari menampakan sinarnya. Hyun In tetap belum bisa memejamkan matanya sedikitpun.
.....
Younhee tampak marah saat tau, apa baju yang harus dikenakan saat foto prewedding. Ia hanya disuruh mengenakan satu set pakaian dalam berwarna merah dan kemeja putih polos 15 cm di atas lutut. Di tambah nanti ia akan masuk ke dalam kolam renang.
"Apa-apaan ini. Aku tidak mau.", kesal Younhee. Junsu mendekat, merajuk Younhee.
"Aku mohon.", rengek Junsu. Younhee mendengus.
"Tidak mau sampai masuk kolam renang. Kau sudah gila ingin pakaian dalamku terjeplak jelas.", Younhee masih kesal. Ia kukuh pada syaratnya.
"Jagiya.", rengek Junsu. "Yasudah tidak.", ngalah Junsu pada akhirnya. Younheepun berjalan kesal ke ruang ganti, mengenakan pakaian yang menjadi konsep. Dia kesal, tidak ada pembicaraan dulu tentang ini.
Saat Younhee keluar, mata Junsu tidak berkedip sedikitpun. Benar-benar seksi. Mata nakalnya berkeling sempurna.
"Sudah siap?", tanya Min Jun. Pengalamannya telak menjadi fotografer di sebuah majalah fashion ternama. Membawa konsep prewedding YounSu ke arah konsep majalah yang tidak hanya menjual fashion namun keeksotisan ekspresi wajah dan bahasa tubuh sang model.
"Ne.", jawab Younhee.
"Min hilangkan pengambilan foto Younhee dan aku dalam kolam renang. Jagiyaku marah.", adu Junsu. Min Jun tertawa keras.
"Aku sudah yakin itu. Baiklah.", Min Jun seakan mengejek. Kini Younhee diposisikan bersandar punggung pada tembok bercat abu-abu, wajahnya dipalingkan ke arah kanan dengan mata yang menyipit tajam pada kamera dan bibir sedikit terbuka terlihat sensual. Sedangkan Junsu bersandar setengah dada pada tubuh Younhee. Tangan kanannya memenjara tubuh Younhee melewati leher Younhee dan telapaknya menempel pada tembok tepat disamping kepala Younhee. Kepalanya menoleh pada wajah Younhee. Bibirnya hampir menempel pada pipi Younhee. Tatapan matanya mengarah ke kamera.*apakah terbayang*
"Junsu, tatapanmu, buatlah seakan kau akan menerkamnya.", suruh Min Jun yang tidak puas dengan mimik Junsu. Junsu menuruti mau Min Jun. Dirasa puas, Min Jun segera mengambil beberapa gambar dengan pose yang sama.
Min Jun mendekat pada keduanya.
"Maaf, aku ingin kau memperlihatkan sedikit pundakmu.", sopan Min Jun, ia menurunkan sedikit kemeja putih Younhee yang kontras dengan kemeja hitam yang dipakai Junsu. Junsu memeluk Younhee dari belakang dan mengecup pundak terbuka Younhee. Younhee tersenyum dengan kepala yang ia sadarkan pada kepala Junsu. Dan tangannya menggenggam erat tangan Junsu di perutnya.*so sweet*
"Tahan. Oke.", Min Jun memberi aba-aba.
Pengambilan beberapa gambar dengan berbagai gaya telah dilakukan. Kini Junsu berada di dalam kolam renang bertelanjang dada, sedangkan Younhee duduk di tepi kolam dengan kaki yang masuk dalam air. Younhee sedikit menunduk, Junsu menopang tangan pada tepian kolam, mengangkat tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya pada Younhee. Merekapun berciuman.
"Good job. Selesai hari ini. Dua hari lagi untuk konsep kedua. Gomawo kerja samanya.", ujar Min Jun selesai mengambil gambar kissing tersebut.
"Akhirnya, melelahkan sekali.", eluh Younhee. Junsu tersenyum jahil. Ia menarik kaki Younhee. Sehingga Younhee masuk ke dalam kolam. Jelaslah semua pakaian dalamnya tercetak jelas.
"Oppa.", marah Younhee. Ia memicingkan matanya. Tapi Junsu tidak peduli.
"Min Jun ambil foto kami.", teriak Junsu yang dengan cepat membopong tubuh Younhee dengan gaya brydal style. Min Jun segera mengambilnya.
"Kau ini.", kesal Younhee mencoba menenggelamkan tubuhnya di dalam air untuk menyamarkan lekuk tubuh dan pakaian dalamnya yang terekspos.
"Seksi.", goda Junsu yang tersenyum riang.
No comments:
Post a Comment